Tujuan Utama
Mengukur kemampuan siswa dalam memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi teks secara kritis bukan sekadar mencari jawaban literal dari teks. Siswa dilatih untuk “berpikir tentang makna”, bukan hanya “menemukan makna”.
Kompetensi yang Diuji
- Pemahaman Literal (Dasar) : Menemukan informasi tersurat dalam teks.
Contoh: siapa tokoh utama, kapan peristiwa terjadi.
- Pemahaman Inferensial (Menarik Kesimpulan): Menyimpulkan makna tersirat, maksud penulis, atau hubungan antaride.
Contoh: apa alasan tokoh melakukan sesuatu.
- Pemahaman Evaluatif (Menilai & Membandingkan): Mengevaluasi sikap penulis, logika teks, serta relevansinya dengan konteks sosial.
Contoh: apakah argumen penulis logis atau bias?
- Kreativitas Bahasa:
Mengembangkan ide dari teks (misal: membuat tanggapan, saran, atau solusi). Ini melatih kemampuan berpikir kritis dan produktif.
Jenis Teks yang Umum Digunakan
- Teks narasi (cerita rakyat, fabel, pengalaman pribadi)
- Teks eksposisi / argumentasi (artikel, opini, teks faktual)
- Teks prosedur dan deskripsi
- Teks puisi atau sastra pendek
Ciri Soal TKA Bahasa Indonesia
- Berbasis teks otentik (artikel nyata, narasi bermakna).
- Soal menuntut analisis, refleksi, dan penalaran nilai-nilai sosial.
- Tidak bergantung pada hafalan teori kebahasaan (seperti morfologi atau sintaksis).
Tiap teks biasanya diikuti 3–5 soal yang menuntut penalaran tingkat tinggi (HOTS), bukan sekadar hafalan.
Contoh Soal TKA Bahasa Indonesia.
Teks Singkat:
Di sekolah, Dinda memimpin program literasi pagi. Ia mengajak teman-temannya membaca buku 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Namun, beberapa siswa masih asyik bermain gawai.
Pertanyaan:
- Apa nilai utama yang ingin disampaikan dalam teks tersebut?
→ Disiplin dan kebiasaan membaca meningkatkan budaya literasi sekolah.
2 Jika Bapak/Ibu menjadi guru Dinda, apa langkah efektif untuk mendukung programnya?
→ Membuat pojok baca menarik dan memberi penghargaan bagi siswa yang rutin membaca.
3 Apa hubungan antara perilaku siswa dengan tujuan kegiatan literasi?
→ Kurangnya kesadaran siswa menghambat tercapainya budaya literasi.


